H. Kehidupan Dalam Berbangsa dan Bernegara

1. Warga Muhammadiyah perlu mengambil bagian dan tidak boleh apatis (masa bodoh) dalam kehidupan politik melalui berbagai saluran secara positif sebagai wujud bermuamalah sebagaimana dalam bidang kehidupan lain dengan prinsipprinsip etika/akhlaq Islam dengan sebaik-baiknya dengan tujuan membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

2. Beberapa pinsip dalam berpolitik harus ditegakkan dengan sejujur—jujurnya dan sesungguh-sungguhnya yaitu menunaikan amanat dan tidak boleh menghianati amanat, menegakkan keadilan, hukum, dan kebenaran, ketaatan kepada pemimpin sejauh sejalan dengan perintah Allah dan Rasul, mengemban risalah Islam, menunaikan amar ma’ruf, nahi munkar, dan mengajak orang untuk beriman kepada Allah, mempedomani Al-Quran dan Sunnah, mementingkan kesatuan dan persaudaraan umat manusia, menghormati kebebasan orang lain, menjauhi fitnah dan kerusakan, menghormati hak hidup orang lain, tidak berhianat dan melakukan kezaliman, tidak mengambil hak orang lain, berlomba dalam kebaikan, bekerjasama dalam kebaikan dan ketaqwaan serta tidak bekerjasama (konspirasi) dalam melakukan dosa dan permusuhan, memelihara hubungan baik antara pemimpin dan warga, memelihara keselamatan umum, hidup berdampingan dengan baik dan damai, tidak melakukan fasad dan kemunkaran, mementingkan ukhuwah Islamiyah, dan prinsip-prinsip lainnya yang maslahat, ihsan, dan ishlah.

3. Berpolitik dalam dan demi kepentingan umat dan bangsa sebagai wujud ibadah kepada Allah dan ishlah serta ihsan kepada sesama, dan jangan mengorbankan kepentingan yang lebih luas dan utama itu demi kepentingan diri sendiri dan kelompok yang sempit.

4. Para politisi Muhammadiyah berkewajiban menunjukkan keteladanan diri (uswah hasanah) yang jujur, benar, dan adil serta menjauhkan diri dari perilaku politik yang kotor, membawa fitnah, fasad (kerusakan), dan hanya mementingkan diri sendiri.

5. Berpolitik dengan kesalihan, sikap positif, dan memiliki cita-cita bagi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya dengan fungsi amar ma’ruf dan nahi munkar yang tersistem dalam satu kesatuan imamah yang kokoh.

6. Menggalang silaturahmi dan ukhuwah antar politisi dan kekuatan politik yang digerakkan oleh para politisi Muhammadiyah secara cerdas dan dewasa.

83 Q.S. An-Nisa (4: 57)

84 Q.S. Al-Anfal (8: 27)

85 Q.S. An-Nisa (4: 58, dst.)

86 Q.S. An-Nisa (4: 59, Al-Hasyr (59: 7)

87 Q.S. Al-Anbiya (21: 107)

88 Q.S. Ali Imran (3 : 104, 110)

89 Q.S. An-Nisa (4 : 108)

90 Q.S. Al-Hujarat (49 : 13)

91 Q.S. Al-Balad (90 : 13)

92 Q.S. Al-Hasyr (59 : 9)

93 Q.S. Al-An’am (6 : 251)

94 Q.S. Al-Furqan (25 : 19, Al-Anfal (8 : 27)

95 Q.S. Al-Maidah (5 : 38)

96 Q.S. Al–Baqarah (2 : 148)

97 Q.S. Al-Maidah (5 : 2

98 Q.S. An-Nisa (4 : 57-58

99 Q.S. At-Taubah (9 : 128

100 Q.S. Al-Mumtahanah (60 : 8)

101 Q.S. Al-Qashash (28 : 77, Ali Imran (3 : 104)

102 Q.S. Ali Imran (3 : 103)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: