Proses Berdirinya Universitas Muhammadiyah Buton

Pesan sang dosen untuk mendirikan sekolah muhammadiyah seolah terlupakan ditelan kesibukan mengajar sebagai guru matematika di SMP, ketika itu guru matematika di Bau-Bau masih langka maklum bidang studi itu baru pertamakali diterapkan sebelumnya masih menggunakan istilah Aljabar dan ilmu ukur yang dipelajari di SMP. Sejak tahun 1977 saya mengajar pagi dan sore di SMP Negeri 1 Bau-Bau kemudian dipindahkan ke SMP Negeri 2 Bau-Bau dengan volume mengajar rata-rata 70 jam pelajaran perminggu, sampai suatu ketika saya mendapatkan tawaran untuk dipidahtugaskan ke Kantor departemen pendidikan dan Kbudayaan Kabupaten Buton sebagai kepala urusan pengumpulan data. Tawaran itu saya terima dengan alasan bahwa untuk mengajar sebagai guru tetap terbuka kesempatan akan tetapi sebagai pejabat kepala urusan data sangat jarang. Pada bulan September 1984 resmi dipindah tugaskan ke kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Buton. Disana saya mengetahui bahwa ternyata di Kabupaten Buton mengalami kekurangan guru. Dari hasil analisis data yang dilakukan ternyata SD/MI masih membutuhkan guru sebanyak 1.350 orang, pada SMP dan Sekolah menengah atas juga masih membutuhkan guru dalam jumlah yang banyak, seiring dengan itu lembaga pendidikan juga masih terbatas sehingga banyak anak-anak yang tidak sempat bersekolah di SD/MI, juga yang tamat SD/MI tidak dapat melanjutkan ke jenjang sekolah berikutnya karena lembaga pendidikan yang terbatas. Setiap penerimaan siswa baru kita melihat kenyataan bahwa rata-rata 20 samapai 30 persen tamatan SD/MI tidak tertampung di SMP/MTs yang ada, mereka kembali menjadi buruh tani dan nelayan di kampunnya.

Cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa khusus untuk anak-anak Buton seakan jauh dari kenyataan. Pemerintah Daerah dan aparat pendidikan yang ada di Buton seolah pasrah dengan kenyataan ini. Maklum pada waktu itu segala sesuatu harus menunggu kebijakan dari Pusat. Jatah pegadaan guru dan pembangunan unit sekolah baru dari pusat setiap tahun sangat terbatas kalau tidak dapat dikatakan hampir tidak ada.

Kenyataan ini mengingatkan kembali pesan sang dosen bahwa setelah kembali ke daerah tidak hanya mengajar sebagai guru tetapi juga mendirikan sekolah Muhammadiyah. Diselah-selah kesibukan saya sebagai Kepala Urusan Pengumpulan Data di Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Buton berupaya untuk dapat mendirikan SMP Muhammadiyah, akan tetapi pada waktu itu belum ada organisasi Muhammadiyah di Buton untuk diajak bekerjasama. Sampai pada suatu ketika pada tahun 1986 ada gagasan Bapak Abdul Muis, B.A dan Abdul Gani Ali untuk mendrikan Orgnisasi Muhammadiyah Buton dan saya turut bergabung mendorong berdirinya oraganisasi itu. Pada tahun 1987 keluar Surat keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentang berdirinya Pimpinan Daerah Muhammadiyah Buton yang ditanda tangani oleh K.H. A.R. Fahruddin dan Rosad Sholeh masing-masing selaku Ketua dan Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Langka awal kegiatan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Buton adalah konsolidasi organisasi, mengumpul kembali asset yang pernah dimiliki Muhammadiyah di Buton dan mendirikan SMP Mughammadiyah Bau-Bau. Melalui negosiasi yang cukup alot dengan berbagai instansi terkait utamanya pemerintah daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Departemen Agama Kabupaten Buton akhirnya pada tahun 1988 SMP Muhammadiyah Bau-Bau resmi berdiri dengan Kepala Sekolah Pertama dijabat oleh Drs. Tomo P. setahun kemudian Drs. Tomo P. mengundurkan diri dan jabatan kepala SMP Muhammadiyah Bau-Bau dilanjutkan oleh Subair. Adanya SMP Muhammadiyah Bau-Bau sedikitnya telah mengatasi permasalahan daya tampung tamatan SD/MI masuk SMP di Kota Bau-Bau pada saat itu.

Sementara untuk mengatasi permasalahan kekurangan guru pada saat itu ada Fakultas Tarbiyah IAIN Alaudin Ujung Pandang Cabang Bau-Bau yang sedang mempersiapkan pengadaan guru umum. Disamping itu pula berdiri Universitas Dayanu Ikhsanuddin yang mempersiapkan beberapa jurusan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan. Dengan adanya dua Perguruan Tinggi ini ada harapan bagi anak daerah untuk melanjutkan pendidikan yang kelak dikemudian hari tamatannya akan mengabdi sebagai guru di sekolah-sekolah yang kekurangan guru di Buton, namun keberadaan kedua perguruan Tinggi ini belum dapat mengatasi kekurangan guru SD/MI yang demikian besar karena belum membuka program studi pengadaan guru SD/MI.

Suatu ketika ada berita mengejutkan bahwa Fakultas Tarbiyah IAIN Alaudin Ujung Pandang Cabang Bau-Bau akan bubar dan berubah status menjadi STAIN Kendari, konsekwensi semua dosen dan asetnya akan turut pindah ke Kendari. Harapan untuk memenuhi kebutuhan guru untuk sekolah-sekolah di Buton semakin tipis. Dulu Universitas Sulawesi Tenggara yang ada di Bau-Bau bubar dan berubah status menjadi Unhol Kendari, kemudian IKIP Ujung Pandang di Bau-Bau juga bubar tanpa diketahui apa sebabnya, kini gilirannya IAIN, kenapa harus bubar atau dipindahkan bukankah Buton sangat membutuhkan perguruan tinggi itu? Samapi saat ini saya belum temukan jawabannya. Dalam pada itu saya terkenang kembali dengan pesan Dr. Yahya muhaimin bahwa “Kalau mau mearamaikan daerahmu bukan dengan cara memimta da’i untuk di kirim ke Buton, tetapi berbuatlah sesuatu agar da’i datang ke Buton” pesan itu disampaikan pada saat Sidang Komisi Pendidikan Muktamar Muhammadiyah 43 di Banda Aceh bulan Juli 1995 beliau pada saat itu selaku pimpinan sidang menjawab permintaan saya bahwa untuk meramaikan muhammadiyah di Buton agar Pimpinan Pusat Muhammadiyah membantu mengirimkan da’i muhammadiyah ke Buton. Diilhami pesan itu saya selaku Kepala SMP Muhammdiyah Bau-Bau menulis surat yang ditujukan kepada Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Ujung Pandang cabang Bau-Bau yang menyatakan bahwa bila IAIN Ujung Pandang Cabang Bau-Bau bubar maka mohon asset yang tidak terpakai lagi dihibahkan ke SMP Muhammadiyah Bau-Bau dan ternyata kemudian Surat Permohonan itu dikabulkan.

Pada suatu sore di Mesjid Raya Bau-Bau Drs. Abdul Muis memberitahukan saya bahwa hasil rapat pimpinan dan senat Fakultas Tarbiyah IAIN Alaudin Ujung Pandang Bau-Bau memutuskan bahwa asset IAIN yang tidak terpakai lagi akan diserahkan ke SMP Muhammadiyah Bau-Bau. Abdul Muis menambahkan bahwa saya harus segera menghubungi pihak STAIN Kendari sebagai perwakilah IAIN Ujung Pandang yang kebetulan Ketuanya masih berada di Bau-Bau. untuk membicarakan perihal penyerahan asset itu. Serah-terima dilaksanakan di rumahnya Drs. Arsyad H. Anwar pada suatu rapat yang dihadiri oleh pihak STAIN Kendari dan Pihak SMP Muhammadiyah di hadiri oleh Subair dan Mahmud Bunarfa. Aset IAIN Alauddin Ujung Pandang Bau-Bau yang tidak terpakai lagi diserahkan oleh Drs. Arsyad H. Anwar selaku Ketua STAIN Kendari kepada saya selaku Kepala SMP Muhammadiyah Bau-Bau. Aset yang diserah-terimakan cukup banyak, menurut Arsyad semua kursi kuliah, lemari, buku-buku perpustakaan dan barang-barang lain kecuali tanah dan gedung diserahkan. Lalu bagaimana penggunaannya oleh SMP Muhammadiyah Bau-Bau. Dalam hal ini saya menanggapi bahwa untuk SMP Muhammadiyah sementara sudah akan tercukupi dan sisanya di rencanakan umtuk mendirikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah.

Walaupun asset yang diterima belum dicek keberadaanya tapi semangat untuk mendirikan perguruan tinggi muhammadiyah bertambah kuat maka pada hari itu juga saya dan Mahmud Bunarfa berupaya mencari teman untuk mendiskusikan gagasan itu. Dalam perjalanan pulang dari rumahnya Drs. Arsyad H. Anwar kami melewati jalan Patimura disana saya melihat Drs. Abdul Rifai, MBA beliau adalah orang yang pernah saya ketemu di sekretariat PAN Bau-Bau, pada waktu itu beliau memperkenalkan diri sebagai orang Muhammadiyah dari Jokyakarta bersaudara dengan Prof. Dr. Nung Muhajir Rektor Universitas Ahmad Dahlan. Di Universitas itu Rifai menjabat sebagai Pembantu Rektor Khusus, jabatan itu terpaksa ditinggalkan karena harus mengikuti istrinya pindah ke Baubau, istrinya telah mengikutinya tinggal di Jokyakarta selama 20 tahun kini gilirannya untuk mengikuti istrinya tinggal di Buton. Istri Rifai adalah Dra. Zaliha La Sope kelahiran Batu Atas kebetulan sekampung dengan Mahmud Bunarfa. Pada pertemuan singkat itu Rifai berharap agar saya dapat mencarikan pekerjaan minimal mengajar di SMP Muhammadiyah Bau-Bau. Melihat Rifai berada di pintu keluar rumahnya saya mengajak Mahmud Bunarfa untuk sengga sebentar berbincang-bincang dengan Rifai tentang rencana mendirikan perguruan tinggi muhammadiyah. Pucuk dicinta ulam tiba rencana mendirikan perguruan tinggi muhammadiyah disambut antusias oleh Rifai maka bincang-bincang berubah menjadi diskusi dan rapat pertama mendirikan sebuah universitas Muhammadiyah. Dalam rapat itu saya bertindak selaku wakil ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Buton sekaligus kepala SMP Muhammadiyah Bau-Bau dan Mahmud Bunarfa selaku Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Buton. Keputusan rapat sebagai berikut :

1. Sehubungan perguruan tinggi muhammadiyah hanya bisa berdiri atas prakarsa pimpinan wilayah maka untuk sementara perguruan tinggi yang akan didirikan di Buton berbentuk Yayasan milik Muhammadiyah dengan nama Yayasan Universitas Islam Buton (UNISBU).
2. Abdul Rifai mempersiapkan Draf Akte Notaris yayasan Universitas Islam Buton (UNISBU) dan pedoman pendirian Universitas di lingkungan Muhammadiyah.
3. Subair dan Mahmud Bunarfa mempersiapkan segala asset milik Muhammadiyah Buton dan dana yang diperlukan untuk menunjang berdirinya Universitas Islam Buton (UNISBU).

Dengan adanya rapat itu rencana untuk bertemu ketua Yayasan Bataraguru L.A. Asis Hasyim, S.Pd tidak jadi dilaksanakan dan akhinya rapat selesai dan kami kembali kerumah masing-masing dengan harapan akan ada pertemuan lanjutan dalam waktu yang tidak lama.

Dua pekan kemudian ada undangan rapat dari Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Buton (Drs. H. Syarifuddin Bone, S.H.). Rapat dilaksanakan di rumahnya dihadiri oleh sebagian besar anggota pimpinan daerah dan beberapa orang yang bukan anggota pimpinan daerah antara lain Drs. Abdul Rifai, MBA dan Drs. Syahir Baso, S.H.

Rapat dipimpin oleh Syarifuddin Bone dan ternyata materi rapat adalah Berdrinya Yayasan Universitas Islam Buton (UNISBU). Masya Allah darimana Ketua PDM Syarifuddin Bone mengetahui adanya UNISBU, keputusan rapat pertama di rumahnya Rifai saya belum laporkan ke Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Buton, juga saat pimpinan rapat menjelaskan bahwa akte pendirian sudah ditandatangani di hadapan notaries Hamid Priyogi, S.H. dengan susunan pengurus yayasan Syahir Baso (Ketua), Syarifuddin Bone (Wakil Ketua), Abdul Rifai (Sekretaris), Mahmud Bunarfa (Wakil Sekretaris), Subair (Komisaris) dan sejumlah nama lain yang sebagian besar saya belum ketahui. Melihat hal itu sesungguhnya hati kecilku berontak bertanya kenapa bisa terjadi tidak saling mengharagai seperti ini, namu saya lebih baik memilih diam, ada sedikit kebanggaan karena mereka menyambut baik gagasan saya mendirikan perguruan tinggi. Selanjutnya saya menelaah isi akte notaris, apakah ada relevansinya dengan Visi yang saya kehendaki sebagaimana amanah muktamar Muhammadiyah 43 di Banda Aceh, pesan Dr. Yahya Muhaimin, Cita-cita dan tujuan hidup Muhammadiyah, serta relevankah dengan kondisi rill Buton yang sangat membutuhkan guru sebagai ujung tombak pencerahan dan pencerdasan akhlaq anak bangsa yang tinggal di Buton? Hasil telaah menunjukkan bahwa akte notaris disusun dengan semangat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah dalam hal ini saya setuju tapi kita berbeda dalam misi untuk mencapai visi itu. Dalam Akte Notaris Pendirian UNISBU tidak sedikitpun mengisyaratkan bhawa UNISBU adalah milik Muhammadiyah, hanya pada bab Pembubaran Yayasan ada klausul yang mengatakan bahwa bila sewaktu-waktu UNISBU bubar asset yang tersisa di serahkan ke Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Kita sependapat dalam harapan dan tujuan tapi kita berbeda dalam cara untuk mencapainya, akhirnya saya sampaikan kepada Ketua PDM Buton (Syarifuddin Bone) dan Rifai untuk tidak ikut di Yayasan UNISBU, akte pendirian tidak sejalan dengan hasil kesepakatan pada rapat pertama di rumahnya Rifai.

Beberapa hari kemudian ketua PDM Buton (Syarifuddin Bone) menunjukkan kepada saya akte pendirian UNISBU yang merupakan perubahan dari akte notaries sebelumnya, didalam akte itu jelas tercantum bahwa Universitas Islam Buton (UNISBU) adalah milik Muhammadiyah, akte itu syah ditandatangani oleh notaries Hamid Prayogi, S.H. Berdasarkan itulah UNISBU berjalan seadanya dan bekembang menjadi Universitas Muhammadiyah Buton seperti apa yang kita lihat sekarang ini.

Demikian kesaksian yang dapat saya berikan dalam proses awal gagasan mendirikan Universitas Muhammadiyah Buton, semoga ada manfaatnya dan mohon koreksi untuk perbaikan, kalau ada yang kurang berkenan.

Oleh : Subair

Foto Pendiri Unmuh Buton

Dalam suatu diskusi dengan Rektor (Drs. H.Syarifuddin Bone, M.Si.

Dalam suatu diskusi dengan Rektor (Drs. H.Syarifuddin Bone, SH, M.Si)

Dalam suatu rapat menyikapi tuntutan Mahasiswa terkait izin operasi Unmuh Buton

Dalam suatu rapat menyikapi tuntutan Mahasiswa terkait izin operasi Unmuh Buton

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: