Beberapa catatan sekitar Pendirian Unmuh Buton

Rapat yang diadakan oleh Ketua PDM Buton Dr. H. Syarifuddin Bone, S.H. bertempat di rumah kediamannya pada awal Desember 1998 perihal memberitahukan kepada anggota PDM Buton tentang konsep Akte Notaris yang dirancang oleh Drs. Abdul Rifai, MBA dan Drs. Andi Muhammad Syahir Baso, S.H tentang berdirinya sebauh Perguruan Tinggi yang benama Universitas Islam Buton (UNISBU) kurang mendapatkan tanggapan dari anggota PDM yang hadir. Saya sendiri memilih tidak ikut di Yayasan itu, pasalnya pada konsep akte notaries itu sudah bertentangan dengan hasil kesepakatan yang dihasilkan pada rapat pertama di jalan Patimura (rumah kediaman Rifai) yang diadakan beberapa minggu lalu.

Pada tanggal 15 Mei 1999 saya mendapat undangan dari Abdul Rifai atas nama Yayasan UNISBU untuk mengikuti pertemuan yang akan diadakan pada tanggal 16 Mei 1999 bertempat di rumah kediamannya di Jalan Patimura dengan agenda pertemuan (1).Tukar pikiran Kurikulum dan silabus prodi UNISBU dan (2). Realisasi berdirinya UNISBU. Saya tetap dengan komitmen awal bahwa UNISBU yang akan didirikan adalah Perguruan Tinggi milik Muhammadiyah karena akan berdiri di atas landasan asset Muhammadiyah yang ada di Kota Bau-Bau, maka undangan itu saya tidak hadiri. Rapat yang mereka adakan tanggal 19 Mei 1999 juga saya tidak hadiri karena agendanya tidak jelas, selanjutnya tanggal 20 Mei 1999 ada lagi undangan rapat yang ditanda tangani oleh Ketua dan Sekretaris Yayasan UNISBU (Drs. Andi Muhammad Syahir Baso, S.H. dan Drs. Abdul Rifai, MBA) yang akan diadakan tanggal 23 Mei 1999 bertempat di Gedung SMP Muhammadiyah Jalan Jenderal Sudirman No. 45 Bau-Bau dengan agenda rapat (1) Perubahan Anggaran Dasar Yayasan, (2) Pengesahan Statuta UNISBU, (3) Pengesahan Peraturan khusus Yayasan, dan (4) Pembagian Kerja antara jabatan structural UNISBU dengan jabatan yayasan. Melihat agenda rapat menarik untuk diperhatikan dan sesungguhnya Abdul Rifai telah melaksasnakan perannya sesuai keputusan pada rapat pertama melahirkan sebuah perguruan tinggi Muhammadiyah bernama UNISBU bahwa dalam pembagian peran itu Abdul Rifai mempersiapkan skill pendidrian Perguruan Tinggi dan Saya bersama teman-teman lain di PDM Buton mempersiapkan asset dan dana, memang sampai disini masih terasa ada perbedaan motivasi antara kami dalam prakarsa melahirkan Universitas Muhammadiyah yang bernama UNISBU itu, namun setidaknya sudah nampak keikhlasan bekerja dan berusaha agar universitas itu tidak mati sebelum lahir. Perbedaan itu mungkin terletak pada kehati-hatian terhadap tanggung jawab dan amanah yang diemban oleh pribadi masing-masing. Sebagai orang yang diberi amanah oleh Muhammadiyah sesuai SK Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor A-2/SKD/474/9500 tanggal 9 Oktober 1997 selaku anggota pimpinan Daerah Muhammadiyah Buton kemudian oleh Pimpinan Daerah diberi tugas sebagai Wakil Ketua PDM Buton harus selalu menjaga kesempurnaan dan ketertiban jalannya persyarikatan sesuai anggaran dasar dan anggaran rumah tangga muhammadiyah maka merasa berkewajiban mengelola perbedaan itu menjadi kebersamaan.

Pembahasan agenda rapat saat itu, khususnya yang menyangkut Perubahan Aggaran Dasar menghasilkan 8 kesepakatan yang merupakan perubahan anggaran dasar yayasan yang harus disempurnakan ke notaries antara lain pada point ke 3 keputusan yang dihasilkan yaitu tambahan kalimat sebelum pembukaan yang berbunyi : ………. Maka para penghadap dan yang diwakilkannya bersama-sama dengan ini mendirikan suatu yayasan yang bernaung atau berafiliasi langsung dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jokyakarta sehingga segala langkah dan tindakan pengurus yayasan menjadi buah amal usaha muhammadiyah …………, dan pada point ke 4. berbunyi Badan Pendiri khusus ayat 2 dan ayat 3 serta ayat 4 dihapus.

Disepakatinya agenda rapat tesrebut di atas mulailah babakan dalam semangat kebersamaan mengawal bayi UNISBU menuju Universitas Muhammadiyah yang besar, berkualitas dan bermartabat di bumi Buton Raya. Secara hukum UNISBU telah ada tapi faktanya belum ada, ini merupakan tantangan yang harus dijawab oleh para penggagas dan pendiri UNISBU. Beberapa pertanyaan untuk melahirkan kegiatan perioritas adalah : (1) Apakah masyarakat dan pemerintah daerah/pusat bisa menerima kehadiran UNISBU? (2) Apakah Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah mau menerima UNISBU sebagai salah satu Amal Usaha di lingkungan Persyarkatan Muhammadiyah? (3) Apakah akan ada dosen dan mahasiswa yang mau bergabung ke UNISBU? Sebagai jawabannya disusun kegiatan perioritas sebagai berikut (1) Pembentukan secretariat di Jalan Patimura Bau-Bau, (2) Pembentukan Pengurus Universitas dan Pengurus Yayasan. (3) Sosialisasi dengan pemerintah dan seiring dengan itu dilakukan sosialisasi dengan PP Muhammadiyah dan PWM Muhammadiyah, (4) Rekrut tenaga pengajar (dosen) dan tenaga administrasi, (5) Penyusunan dokumen usulan legalitas formal UNISBU. Selanjutnya diharapkan agar pengurus yayasan masing-masing mengambil prakarsa yang terbaik untuk memberikan kontribusi nyata dalam perjalanan membesarkan UNISBU.
Dalam pada itu diharapkan semua yang mengaku sebagai pendiri Universitas Muhammadiyah Buton dapat menceritakan pengalaman dan konstribusi nyata yang telah diberikan dalam menunjang proses terbentuknya UNISBU menuju terwujudnya Universitas Muhammadiyah Buton (UMB) sebagaimana adanya sekarang ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: