Perkembangan Muhammadiyah di Buton

MUHAMMDIYAH BUTON BERMULA DARI
PENGAJIAN DARI RUMAH KE RUMAH

Diangkat dari Laporan Daerah Suara Muhammadiyah No. 20/69/1989

Dilaporkan oleh :
CHAIRUL ANWAR

Daerah Tingkat II Kabupaten Buton adalah daerah kepulauan dan merupakan salah satu kabupaten di wilayah Propinsi Sulawesi Tenggara yang mempunyai luas wilayah 6.463 km2, terdiri dari 21 kecamatan, 216 desa/kelurahan. Sedangkan penduduknya pada akhir tahun 1988 berjumlah 373.795 jiwa.
Sebagaimana tertulis dalam buku sejarah kita, di daerah Buton pernah berdiri Kesultanan Buton yang sampai saat ini masih dapat dilihat bekas-bekas peninggalannya. Antara lain Keraton Kesultanan, Mesjid Keraton berserta tiang bendera (yang meski sudah berusia ratusan tahun tetap tegak berdiri dengan megahnya), makam raja-raja beserta kerabat keraton dan lain-lain.
Berdasarkan hasil penelitian para pakar sejarah kebudayaan, Buton pernah mencapai puncak kejayaan dimasa Kesultanan Buton yang ke-29, yakni Sultan Idrus Muhammad Kaimuddin.
Persyarikatan Muhammadiyah mulai aktif di daerah ini pada awal tahun 1950, merintis kegiatannya dibidang pendidikan, da’wa serta amal sosial.

Keberadaan Muhammadiyah

Untuk memastikan sejak kapan Muhammadiyah ada di daerah Buton sangatlah sulit. Walaupun pengaruhnya sudah nampak dalam masyarakat, namun secara riil aktifitas Muhammadiyah baru nampak sejak tahun 1950-an, dipolopori oleh H. La Ode Hamiru, H. La Ode Tua Mkmun, Raja Lung Dg. Mattula, Abd. Wahab Dg. Mattata, Abdul Gani Ali Dg. Mappuji, Ambo Masse, H. Mustari Said, H. Abdul Rahman, Abdul Muin Dg. Magassing.
Kegiatan da’wa pada awalnya diselenggarakan melalui pengajian keliling dari rumah ke rumah. Setelah warga persyarikatan semakin meluas, da’wa dilaksanakan di Mesjid Raya Bau-Bau. Dan merupakan cirri khas Muhammadiyah, disamping da’wa bil lisan juga menyelenggarakan da’wa bil hal dalam bentuk menyantuni fakir miskin yang dipelopori oleh ibu-ibu Aisiyah dan Pemuda Muhammadiyah.
Dibidang pendidikan didirikan TK Aisiyah, Sekolah Dasar Islam (SDI) yang dikenal dikalangan masyarakat dengan sebutan “Sekolah Arab” serta mendirikan Sekolah Menengah Islam (SMI) Muhammadiyah. Pada tahun ajaran 1960/1961 SMIM dilebur menjadi Pendidikan Guru Agama Pertama (PGAP) Muhammadiyah.
Pada perkembangan selanjutnya PGAP mengalami kemunduran karena ditempat yang sama berdiri PGA Negeri yang mempunyai fasilitas dan tempat yang lebih memadai. Namun demikian PGAP Muhammadiyah Buton tercatat sebagai perintis berdirinya sekolah guru agama, menamatkan siswa-siswa terbaiknya yang kini sebagian telah mendapatkan gelar kesarjanaan menduduki jabatan di berbagai instansi pemerintah.

Wakaf Sultan Buton

Amal usaha Muhammadiyah yang tak kenal menyerah didorong motif mencari mardatillah akhirnya membuahkan hasil dan mendapat dukungan di kalangan masyarakat luas. Disamping dari kalangan pemerintah, juga diantaranya dari para bangsawan/tokoh adat di lingkungan kesultanan Buton. Melalui Yayasan Pendidikan Kaimuddin, Yang Mulia Sri Sultan LA ODE FALIHI (Sultan Terakhir Kesultanan Buton_ telah meberikan sebagian tanah wakaf kepada Pengurus Muhammadiyah Kabupaten Buton. Diatas tanah inilah didirikan gedung sekolah yang dibangun atas biaya swadaya masyarakat, baik dari anggota maupun simpatisan Muhammadiyah.
Diantara para donator yang sangat berjasa dalam menyelesaikan bangunan sekolah tersebut dianranya H.M. Yusuf (waktu itu Pangdam XIV Hasanuddin, sekarang Jend. Yusuf, Ketua BPK), Bapak Andi Syamsu Alam (waktu itu Dandim Buton, jabatan saat ini Bupati Kepala Daerah Tk II Bone), dan pada tahun 1986 mendapat dana rehabilitasi dari Departemen Agama untuk Proyek Pendidikan Madrasah Swasta.

Keadaan Pengurus

Setelah diundangkannya UU Nomor 8 tentang Organisasi Kemasyarakatan, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Tenggara mengadakan konsultasi dan mohon restu Gubernur melalui Direktorat Sospol Tk. I, selamjutnya konsultasi dan mohon restu Bupati Kepala Daerah Tk. II Buton, dan mengajukan surat permohonan pengesahan. Kemudian terbit SK Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor : A-2/SKD/364/8590 tanggal 6 Dzulkaidah 1407 H / 2 Juli 1987 M tentang susunan pengurus Muhammadiyah Daerah Buton periode 1985-1990 dengan Ketua Abdul Gani Ali Dg. Mappuji.
Pembebtukan pengurus baru tersebut sekaligus penyegaran bagi PDM Buton, karena sebagia pengurusnya terdiri dari generasi muda yang menyandang beragam gelar kesarjanaan dan mengabdi diberbagai Instansi/Dinas Jawatan Pemerintah maupun Sawasta. Penyegaran juga dilaksanakan di dalam kepengurusan Aisiyah, Pemuda Muhammadiyah kemudian IPM dan IMM.
Beberapa program yang saat ini telah dirintis adalah mendirikan Madrasah Diniyah bagi pelajar tingkat Sekolah Dasar dan Tingkat Lanjuta, mendirikan SMP, memperbaiki Kantor/Sekretariat, melaksanakan pendataan ulang bagi anggota lama maupun baru dan lain-lain.
Peringatan Milad Muhammadiyah untuk tahun ini dilaksanakan secara sederhana, namun penuh hikmat dan cukup meriah. Dihadiri Bapak Bupati KDH Tk. II Buton, para kepala Jawatan/Dinas, tokoh-tokoh masyarakat, warga dan simpatisan Muhammadiyah.
PDM Buton juga menyelenggarakan sarasehan antar pengurus dan anggota, membahas peran serta Muhammadiyah dalam pembangunan, khususnya pembangunan di wilayah pedesaan. Melalui pola Operasional Gerakan Desa Makmur Merata (GERSAMATA) – merupakan garis-garis kebijakan pembangunan pedesaan, mencerminkan kehendak pemerintah Daerah Tk. I Sulawesi Tenggara beserta seluruh rakyat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat – pembangunan itu dilaksanakan.

Subair (Bau-Bau, 16 September 2008)

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: