Menjalankan Amanah Organisasi

Awal Pebruari 1977 tugas belajar di IKIP Malang dinyatakan selesai, ijazah Diploma Matemátika dan Akta mengajar sudah diterima dan harus segerah kembali ke daerah untuk mengajar sebagai guru SMP. Oleh Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Sulawesi Tenggara saya ditempatkan di SMP Negeri 1 Bau-Bau. Pada saat itu SMP di Kota Bau-Bau hanya ada tiga sekolah yaitu SMP tempat saya ditugaskan, SMP Negeri 2 Bau-Bau dan SMP Swasta Mutiara Bau-Bau. Juga ada satu MTs Negeri. Animo masyarakat untuk melanjutkan sekolah ke SMP/MTs sangat tinggi sehingga daya tampung sekolah yang ada tidak lagi memadai.

Pada tahun 1984 saya dipindah tugaskan menjadi Kepala Urusan Pengumpulan data di Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Buton. Disana saya mengetahui bahwa 40% tamatan SD/MI tidak melanjutkan ke SMP/MTs. Sebagai aparat pemerintah yang ditugaskan di daerah semuanya besifat menunggu kebijakan dari pusat untuk mendapatkan jatah pembangunan sekolah. Tapi dari tahun ketahun jatah itu tak kunjung datang. Melihat kenyataan itu tergugah kembali untuk mewujudkan pesan sang dosen mendirikan sekolah. Akan tetapi organisasi Muhammadiyah yang diharapkan Belum ada di Buton, nati pada tahun 1987 baru ada PDM Buton dan saya sebagai salah seorang dari anggota pimpinan daerah sebagaimana Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor A-2/SKD/364/8590 tentang pengangkatan dan penetapan Pimpinan Muhammadiyah Daerah Tingkat II Buton periode 1985 – 1990.

Tidak ada organisasi Muhammadiyah tanpa ada amal usaha demikian ajaran yang didapatkan selama bermuhammadiyah di Malang, seiring dengan semangat itu disertai kondisi lapangan yang ada juga pesan sang dosen, maka langka awal bermuhammadiyah di Buton diusulkan untuk mendirikan SMP Muhammadiyah dan disepakati oleh teman-teman PDM. Akan tetapi ternyata tidak mudah hambatan demi hambatan menghadang mulai dari masyarakat sampai pada aparat dan pimpinan pemerintah seolah Belum menerima kehadiran Muhammadiyah. Personal pimpinan daerah Muhammdiyah Buton yang ada di SK PP Muhammadiyah sebanyak 9 orang ternyata hanya 5 orang yang ada di Buton selebihnya 3 orang di luar daerah dan 2 orang tidak diketahui berada dimana. Orang-orang yang diperkirakan pernah bermuhammadiyah dimasa lalu diajak bermuhammadiyah kembali tidak lagi besedia malah mereka mengatakan jangan lagi sebutkan itu sepertinya ada kekecewaan dan ketakutan dari pengalaman masa lalu mereka. Masyarakat awam menganggap Muhammadiyah sebagai paham agama yang harus dihindari.

Kenyataan tersebut di atas tidak menyurutkan niat untuk menunaikan tugas dari Pimpinan Pasat, kami terus bekerja walaupun rapat-rapat PDM hanya dihadiri 2 sampai 4 orang anggota pimpinan daerah. Dokumen pendirian SMP Muhammadiyah disiapkan dan diajukan ke pemerintah untuk mendapatkan rekomendasi dari Bupati dan Kandep Pendidikan, alasan demi alasan dari Bupati dan Kandep Pendidikan untuk tidak menandatangani rekomendasi itu tetapi kami tidak surut karena beberapa orang pemuda yang dikoordinir oleh Drs. Tomo turut bergabung memeperkuat kepanitiaan, sampai pada akhirnya Bupati melalui sekdanya mengadakan rapat koordinasi yang menghadirkan berbagai unsur yang terdiri dari Kepala Sospol, Kepala Kantor Departemen Agama, Kepala Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Kantor Sosial, Ketua PDM Buton dan Panitia Pendiri untuk mengawal penandatanganan rekomendasi itu. Dalam rapat itu terungkap bahwa jangan sampai rekomendasi ditandatangani lalu izan operasi keluar dari Kanwil Pendidikan Propinsi Sulawesi Tenggara lantas sekolah tidak berjalan sebagaimana mestinya. Melihat semangat Panitia yang terungkap pada rapat itu semua yang hadir memberikan dukungan berdirinya SMP Muhammadiyah Bau-Bau maka rekomendasi ditandatangani oleh Bupati Buton dan Kepala Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Buton selanjutnya dokumen diajukan ke Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Sulawesi Tenggara, sebulan kemudian Izin Operasi terwujud. Seiring dengan berdirinya SMP Muhammadiyah berdiri pula Taman Kanak-Kanak Aisiyah dan Madrasah Ibtidayah Jabal Nur.

Dengan demikian terwujudlah Pimpinan Daerah Muhammadiyah Buton sebagaimana seharusnya dengan tiga buah amal usaha yang dimilikinya. Inilah cikal bakal bangkitnya kepercayaan masyarkat terhadap Muhammadiyah.

Subair (Bau-Bau, 16 September 2008)

Tag: , , , , ,

2 Tanggapan to “Menjalankan Amanah Organisasi”

  1. vyanrh Says:

    Salut.. meskipun banyak rintangan namun tetap maju merealisasikan tujuan mulia memberikan kesempatan belajar bagi rakyat Indonesia.. Terus berjuang dan kalahkan kebodohan, kemiskinan, kejahatan di bumi nusantara ini.
    Salam hormat dari seluruh rakyat Indonesia yang ingin maju.

    • subair Says:

      Terima kasih, semoga kita semua selalu dikarunia Allah iman yang teguh, sehat jasmani/rohani dan rezeki yang halal, untuk berjuang membangun bangsa yang kita cintai, Indonesia yang damai sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: